Banking 4.0

Kemarin ini, bos gue ngasih sebuah link video di grup whatsapp kerjaan (video nya bisa di cek di bawah). Kemudian setiap orang yang ada di grup diminta untuk menjelaskan interesting point dari apa yang disampaikan Bratt di video tersebut.

Di video ini, sepanjang 45 menit Brett menjelaskan kalau, financial industries, akan sangat berubah sepanjang tahun 2020-2030. Indikatornya adalah, 95% dari nasabah ga akan pernah ke cabang bank, semua proses business onboarding akan pindah ke digital, thats why dia bilang akan berubah drastis dari segi customer behavior.

Retail banking belakangan memang jadi sorotan yang paling hot di kalangan industri perbankan, technology disruption yang menjadi biang keladinya. Segala aspek yang dulu nya hanya bisa dimainkan oleh Bank-Bank besar, sekarang bisa dimainkan oleh Fintech-fintech kecil. Gue bilang segala berarti semua ya, mau sebut apa? Payment udah masuk, Lending udah masuk, Funding udah masuk, bahkan yang lagi hot belakangan ini adalah fungsi advisory bank yang bakal di disrupt sama roboadvisory berbasis AI, misalnya di bidang investment.

Nah cuma, di video ini framework yang Brett pakai untuk menjelaskan suatu inovasi, kontennya diambil dari berbagai industri, ada 2 macam

, yaitu:

  1. First principle design thinking, ini adalah proses berpikir yang “mengubah fundamental suatu design”, contoh yang dia ambil adalah disruption Space X terhadap dominasi NASA dan Russia dalam pengembangan roket. Root nya adalah “bagaimana kalau kita design ulang semua roket-roket ini, dengan prinsip-prinsip yang sama sekali berbeda dari sebelumnya”, dan hasilnya seperti yang kita ketahui, Space x berhasil mereduksi biaya produksi roket sampai 95% dari yang dilakukan NASA.
  2. Iterative design thinking, yang ini proses mengembangkan design dari yang sudah ada sebelumnya (iterasi), ini yang disebut dilakukan oleh NASA sebelumnya, yaitu mengembangkan roket dari roket yang ada sebelumnya (sebelum di disrupt sama Space X tentunya).

Nah kemudian berangkat dari 2 pendekatan tadi mulai masuk ke contoh-contoh disrupsi teknologi yang terjadi di industri financial services. Dari konsep customer behavior yang sudah berubah,

Tapi statement terakhir Brett yang perlu digarisbawahi adalah, tidak cukup dengan ‘cuma’ menambahkan teknologi2 macam AI, blockchain dll untuk bertahan di Banking 4.0 sampai 2030. Kenapa? Karna teknologi hanya membantu proses bisnis saja. Sekali lagi enggak cukup. Ngga cukup.

Tapi yang paling penting adalah kemampuan organisasi untuk adapt, siap untuk mulai design dari awal lagi “first principle design thinking”. Caranya adalah dengan “rethinking the role of the business in customer lives”.Brett ambil contoh P2P lending, dimana sekarang jumlahnya lebih banyak dr charter bank di us dan china, dimana yang di design bukan teknologi nya, tapi core business nya, konsep peer to peer nya.

Untuk jadi leader di market, diperlukan kemampuan “first principle design thinking” not only “iterative design thinking”.  Bank harus pikirkan kembali market positioningnya, dan tentu saja sekedar menjadi “lembaga simpan pinjam” ga akan cukup untuk saat ini. Change customer behavior, bank harus bisa hadirkan “end-to-end financial services yang bisa mengakomodasi kebutuhan nasabahnya dari segi transaksi, saving, lending bahkan yang lebih kompleks, yaitu investing.

For closing, mengutip komedian Pandji Pragiwaksono

“sedikit lebih beda lebih baik dari sedikit lebih baik” 😁, be bold, be different!

Advertisements

Digital Sketching on Mipad 4 + Adonit Mark : unexpectedly good!

Baru-baru ini gue lagi nyobain bikin sketch secara digital, pake mipad 4 baru. Noraknya gue baru tau kalo jaman sekarang, udah ada autodesk sketch yang entah kenapa GRATIS (apa yang dipikirkan sama developernya, mungkin sedikit mabuk) aplikasi nya juga nggak sembarangan padahal, lengkap dan kayaknya ga ada kurangnya, udah ada sistem layer + drawing tools yang luar biasa lengkap.

Ini combo tools yang gue pake buat gambar, Mipad 4 + Adonit Mark, alasan pake nya ini apa jangan ditanya, karena udah jelas alasannya cari yang murah hahaha. Kalo banyak duit gue udah beli ipad pro + apple pencil dong. Nah, masalahnya murah bukan berarti murahan (ngeles) karna sejujurnya dengan ini pun udah lebih dari cukup kok buat gue, emang pertamanya agak aneh sih, bedanya kira2 kayak gini:

  • ada lag antara ujung pen sama layar, ini masalah utama sih, jadi susah buat bikin garis lurus. (tapi santai, main zoom in zoom out aja)
  • ujung pen nya itu ga lancip, tapi bunder, ini rasanya aneh banget sih, tapi percayalah lama2 akan terbiasa. Ujung lancip (pen tip) itu cuma ada di brand2 premium macam samsung sama iphone. Yang lain ujung tip nya itu karet, kalau ngga ya pakai mesh.

Gue mulanya agak skeptis bakal terpuaskan nge gambar pake digital, tapi ternyata gue salah, totally satisfying gambar kayak gini dan nagih, cobain deh menarik bgt.

 

 

Kyoto : National Heritage from Edo Period

DSCF9701
Don’t go alone, always travel with your friends

Kalau kamu berencana pergi ke Jepang, satu yang mesti diingat baik-baik, jangan lupa untuk pergi ke Kyoto. Loh kenapa? Begini, menurut gue walau sama-sama di Jepang, tapi tiap daerah itu punya ciri khas masing-masing, misalnya Tokyo, Kyoto, Osaka, sama hmm Hokkaido.

Tokyo dan Osaka contohnya, terkenal dengan pusat perbelanjaan dan downtown yang super metropolitan, cocok buat kamu belanja barang-barang elektronik atau misal baju2 mode trendy. Disamping itu, Tokyo dan Osaka ini punya destinasi wisata dan culture yang berbeda, kayak misalkan kuil-kuilnya punya style berbeda, social culture juga berbeda (ini bisa dirasakan bahkan sama turis yang ngga ngerti2 amat kayak gue), gini deh bahkan budaya naik eskalator aja beda (Tokyo kalau ga buru2 di kiri, kalau buru2 di kanan, Osaka sebaliknya).

Hokkaido, terkenal banget dengan wisata onsen dan ski, karena secara geografis dia paling di utara, jadi lebih dingin dari kota Jepang lainnya. Nah, kalo kalian pengen ngerasain salju dan ga sempet ke negara Amerika atau Eropa, kayaknya Hokkaido udah paling the best lah.

Nah kita ngomongin tempat favorit gue nih yaitu Kyoto. Kenapa gue suka banget Kyoto? karena kerasa banget nuansa Jepangnya. Kalau kita bicara sejarah sedikit, Kyoto itu adalah pusat pemerintahan di zaman Edo, nah kalau dulu pusat pemerintahan di Jepang (kurang lebih 1000 tahun sampai dengan 1868) itu pusatnya di Kansai, dengan Osaka-Kyoto-Kobe sebagai daerah metropolitannya, sekarang udah dipindah ke Kanto (pusatnya di Tokyo). Nah karena itu, banyak banget peninggalan bersejarah di Kyoto ini, style bangunannya sebagian masih ada nuansa Edo nya dan ga kelihatan se metropolitan Tokyo. Btw, jarak antara Kyoto dan Tokyo itu lebih dari 400km, sedangkan kalau Kyoto Osaka sekitar 60km, jadi beberapa orang harus milih mau ke Tokyo aja atau Kyoto-Osaka, karena kalau mau dua2nya artinya akan ada extra cost entah kalian naik kereta (mostly shinkansen yg mahal tp cepet) atau pesawat ke kansai international terminal.

map_kantokansai
Liat jaraknya, Tokyo-Kyoto&Osaka emang ga deket

Tourist attraction di Kyoto juga bejibun, meskipun kebanyakan shrine/kuil tapi gue bisa jamin kalian ga akan pernah kecewa untuk datang kesana, kenapa? banyak banget yang menarik untuk diliat soalnya, kalau kalian punya hobby fotografi, wah ga akan pernah abis tuh yang namanya objek foto, mau human interest, landscape apapun lengkap.

Berikut hasil photo hunting pas-pasan gue waktu di Kyoto

  1. Fushimi Inari-Taisha

Fushimi Inari sepertinya adalah tempat paling populer di Kyoto, kalau kalian pernah liat semacam gerbang berwarna merah (Torii) dan berjajar kayak gini, udah pasti itu Fushimi Inari. Jadi sebenernya ini adalah bukit kecil, dan Torii ini akan ada di sepanjang kalian naik anak tangga, yang akan terus ada sampai di puncak bukit! Torii ini menurut gue impresif sih, karena konsisten banget sampai atas bukit ada terus, ukurannya gede dan….. sebagai insinyur sipil gue bingung gimana cara mereka bikinnya sampai atas? hahaha. Dan konon katanya setiap Torii ini disumbangin ke kuil dari pebisnis2 di Jepang untuk membantu industri pariwisata (Indonesia gt juga dong!)

Oiya, sumpah bukitnya lumayan bikin capek, apalagi kalau kalian dateng pas summer, ada deh kayaknya gue naik tuh 1,5jam an. Nah tips disini adalah, jangan keburu foto2 dulu dibawah (rame banget), tunggu aja sampai agak atas karena mayoritas turis ga akan naik sampai atas bukit (iyalah lu kira turisnya muda semua). Oiya, diatas bukit kalian bisa liat pemandangan kota Kyoto dari aerial view, sumpah bagus banget, capeknya jadi ilang!

2. Arashiyama

Arashiyama Bamboo Groove, ya sebenernya hutan bambu biasa sih (ya maksud gue di Indonesia juga banyak hahaha), cuma entah kenapa ditata sedemikian rupa sampe keliatan bagus banget. Cuma tetep unik karena daerah sekitarnya itu kayak pinggiran kota, jadi kalo kita liat neighborhood nya itu beda kayak di perkotaan, rumahnya mungil-mungil, mobilnya juga kecil semua, nah disini nih bedanya Kyoto lagi.

3. Kiyomizu Dera

Naah ini, juga kece banget, sialnya pas kita kesana shrine nya lagi direnovasi haha. Disini biasanya akan ada festival kalo kalian dateng di waktu yang tepat, oh iya seinget gue ini adalah tempat terbanyak gue liat orang pake Yukata. Jalan ke arah shrine nya aja udah kerasa Jepang banget, sayang kita dateng kesorean dan sialnya lagi direnovasi (double kill).

Karena waktunya terbatas, sayang bgt cuma 3 tempat itu yang kita kunjungin di Kyoto, malemnya kita makan ramen halal yang cukup terkenal di kalangan muslim disana, tapi rasanya hambar sih dan agak mahal, jadi gue ga abadikan karena ga terlalu impressed jg hahaha. Sekian!

My prayer

There were some things unexpected

Some are unexplainable and will never be

Still hard to sleep since that moment

Until i saw your smile again

It really meant for me

Authentic smile, which really could make my day

I bet you will never wanna meet me again

But one thing i can promise to you

My prayers will always there for you

Building my father’s heritage : Modifikasi sepeda MTB ke hybrid (1)

Bermula dari kabita (sunda, artinya kepengen) sama sharing foto temen yang sekarang sepedaan, muncul lah niatan gue untuk main sepeda. Inget punya inget, gue punya kok sepeda, cukup bagus – sangat bagus malahan- peninggalan bokap yang dulu sesaat sebelum meningaal tiba-tiba beli sepeda (ini absurd, karna bokap bukan tipe orang yang suka olahraga haha).

Kalo kalian yang akrab sama dunia sepeda, mungkin udah ga asing dengan sepeda MTB Xtrada series, nah yang punya gue ini series Xtrada 5 tahun 2013.

iSYAqO9b_HuIV17uhiXXD9S7RS7cg7S_C2doFZdPJwQ-2048x1536
Beautiful, isn’t it?

Oh ya, Xtrada 5 ini sebenernya tipe MTB XC atau cross-country, cocoknya buat trek pedesaan atau tanah tapi yang ga terlalu ekstrem (kalo yang lebih ekstrem lagi kalian perlu sepeda full suspension, sementara Xtrada series ini masih versi hardtail). Tapi karna gue masih pemula dan banyakan gowes di aspal, maka kepikiran lah buat modif2 sikit biar bisa agak ngebut di jalanan, ya bisa dibilang biar ga kalah-kalah bgt lah sama speed roadbike wkwkwk.

Nah, modif yang kayak gini ini (transform MTB ke style2 road bike, ataupun sebaliknya) biasanya disebut modif sepeda hybrid. Sepeda model gini bisa dipake di dua medan baik XC ataupun road, yaaa walaupun jadi agak serba tanggung sih. Kalo kalian mau coba-coba modif gaya gini, baca aja, siapa tau bisa jadi referensi hehe. Yuk masuk step by step modifikasi sepeda gue!

Read More »